Sabtu, 24 Maret 2012

Al - Habib Imam Abdullah Al - Aydarus Akbar


Nasab Al-habib Imam Abdullah Al-Aydrus ra

Al-habib Imam Abdullah Al-Aydrus bin Abu Bakar As-Sakran bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Imam Abdullah lahir di Tarim pada tanggal sepuluh Dzulhijjah tahun 811 hijriyah. Kakeknya Abdurahman Assaqqaf merasa senang dengan kelahirannya dan berkata: Dia adalah seorang sufi dan gelarnya Alaydrus. Alaydrus adalah gelar auliya dan nama seorang ahli sufi besar. Beliau pemimpin para sufi di zamannya, sesuai dengan doa ayahnya yang meminta kepada Allah dalam khalwatnya agar memberinya keturunan yang soleh dan berbakti, mempunyai derajat dan nama besar.
Kakeknya wafat ketika ia berusia delapan tahun dan selanjutnya beliau dididik oleh ayahnya dengan didikan yang sempurna. Ketika berusia enam belas tahun ayahnya pun wafat dan selanjutnya beliau dididik oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar dan menikahkan dengan anak perempuannya. Pamannya selalu mengajarkan jalan para ulama sholihin dan memakaikannya pakaian suf, Syaikh Abdullah berkata: "Saya diajari oleh pamanku tentang rahasia nama-nama Allah dan saya belajar pula kepadanya ilmu-ilmu hitungan". Beliau belajar alquran kepada Syaikh Muhammad bin Umar Ba'alawi, belajar fiqih kepada al-Faqih Saad bin Ubaidillah bin Abi Ubaid, Syaikh Abdullah Baharawah, al-Faqih Abdullah Baghusair, al-Faqih Ali bin Muhammad Abi Ammar.
Imam Abdullah mulai bermujahadah ketika berusia tujuh tahun, beliau juga pernah berpuasa selam tujuh tahun dan berbuka hanya dengan tujuh butir kurma, tidak makan apapun selain itu. Beliau berkata: "Pada awalnya aku menelaah kitab-kitab fiqih dan mendorong aku untuk bermujahadah dengan memperbanyak lapar, walaupun ibuku menyuruhku untuk makan". Beliau pernah lebih dua puluh tahun tidak tidur baik malam maupun siang, sehingga derajat beliau menjadi Syaikhul Akbar, beliau selalu menutup diri dari ketenaran.
Murid-murid Imam Abdullah di antaranya saudaranya Syaikh Ali bin Abi Bakar Sakran, Syaikh Umar bin Abdurahman Shahibul Hamra', Syaikh Abdullah bin Ahmad Baaktsir, Sayid Ahmad Qasam bin Ali Syaibah, Syaikh Muhammad bin Ali al-Afif al-Hajrani. Beliau selalu melazimkan membaca kitab Ihya Ulumuddin dan hampir saja beliau hafal kitab tersebut serta menganjurkan kepada murid dan sahabatnya untuk membaca dan mengkajinya. Sebaliknya beliau melarang sahabatnya untuk mengkaji kitab Futuhat al-Makiyyah dan beliau memerintahkan untuk berkhusnu zhon saja kepada Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi bahwa beliau adalah salah satu auliya' Allah.
Berkata Syaikh Jamaluddin Az-Za'faroni: "Syaikh Abdulloh adalah ayat dari ayat-ayat Allah, kakeknya Abdurahman Assaqqaf sangat menyayanginya dan memberi rahasia ilmu kepadanya". Berkata Syaikh Abu Bakar As-sakran: "Anakku Abdullah adalah salah satu sufi besar, bau harum dari harumnya Rasulullah saw, salah satu wali quthub". Sedangkan pamannya Syaikh Umar Muhdhar berkata: "Sesungguhnya aku kawinkan putriku dengan anak saudaraku karena pada beliau terdapat kehormatan semua bani Alawi, beliau telah menjadi wali quthub pada usia tujuh tahun".
Imam Abdullah menginfaqkan hartanya untuk kaum fuqara dan masakin, sangat tawadhu' terhjadap kaum faqir miskin, tegas terhadap para penguasa sehingga para raja cinta dan tunduk kepadanya, lembut perkataannya. Berkata Syaikh Izzudin bin Abdi salam: "Tidak ada orang yang keramatnya sama dengan maqom al-Quthub Ar-Rabbani Abdul Qadir Jailani kecuali Syaikh Ali Husin As-Sadzilli dan Syaikh Abdullah bin Abi Bakar al-Alaydrus". Di antara keramatnya adalah beliau dapat berbicara dengan orang yang telah meninggal dunia, berjalan di atas air, berbicara dengan bahasa hewan, doanya mustajab seketika, melihat sesuatu yang sangat jauh hanya dengan membalikkan hijab, dapat melihat manusia yang mempunyai sifat seperti binatang sebagaimana wujud aslinya.
Kitab yang dibaca di antaranya Tanbieh, Minhaj, Khulashoh. Dalam hal ilmu tauhid dan hakikat, beliau berkata dengan perkataan yang lembut: "Jika aku ingin, aku dapat menafsirkan huruf alif hingga seratus jilid, tapi itu tidak aku lakukan". Beliau mengarang kitab berjudul 'al-Kibrit al-Ahmar' dan mensyarahkan qasidah yang dikarang oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar.
Sebagian ulama kasyaf melihat bahwa Rasulullah saw memuji Syaikh Abdullah dengan pujian yang agung, yaitu: "Abdullah adalah anakku, rahasiaku , darah dagingku, hidupku, tulangku, pewaris sunnahku"
Imam Abdullah Alaydrus wafat pada hari Minggu sebelum waktu zawal tanggal dua belas Ramadhan tahun 865 hijriyah.

Beliau seorang Sayid, Imam para wali dan orang – orang sholeh ( Al-qutub ). Beliau dijuluki “ Abu Muhammad “ dan bergelar “ Al-aydrus “( artinya ketua orang-orang tasawuf ) dan dilahirkan di kota Tarim pada 10 Zulhijah 811 H/1393 M. Ayah beliau Al habib Abu Bakar As sakran bin Al habib Imam Abdurrahman Assegaf dan ibunda beliau adalah Mariam, putri Syech Ahmad bin Muhammad Barussyaid. Beliau belajar Al-qur’an dari seorang guru besar Syech Muhammad bin Umar Ba ‘Alwi dan belajar ilmu fiqih dari guru-guru ahli fiqih:

• Syech Sa’ad bin Ubaidillah bin Abi Ubeid
• Abdullah Bahrawah
• Syech Abdullah Bagasyn,
• Syech Abdullah bin Muhammad bin Amar,dll.

Beliau mempelajari dan memperdalam kitab Tanbih dan Minhaj dan senang membaca kedua kitab tersebut, karena sangat cinta pada kedua pengarang kitab tersebut. Beliau mempelajari tasawuf dari seorang guru Al-imam Syech Umar Muhdar dan membekali dirinya sebagai seorang sufi ( ahli tasawuf ). Dan sangat gemar membaca kitab-kitab karangan Imam Ghazali, terutama kitab Ihya Ulumudin, hingga hapal dan pindah ke batinnya. Beliau sangat memuji pengarangnya.
Beliau mengarang kitab Al kibritul Ahmar dan syarahnya dalam bentuk syair untuk paman Al habib Syech Umar Muhdar. Antara lain kata-kata beliau:

“Bagi saya sama saja pujian dan makian, lapar dan kenyang, pakaian mewah dan rendah, lima ratus dinar atau dua dinar “ . “Sejak kecil hatiku tidak pernah condong selain kepada Allah SWT dan bagaimana hatiku bisa tenang, apabila badan saya berbalik kanan, saya melihat surga, dan apabila berbalik ke kiri, saya melihat neraka.”

Beliau sangat takut kepada Allah SWT dan sangat tawadhu, beliau tidak pernah merasa dirinya lebih baik dari siapapun mahluk Allah SWT, bahkan binatang sekalipun. Beliau senantiasa bersujud di tanah, karena merendahkan dirinya dihadapan Allah swt; dan beliau selalu membawa sendiri keperluannya dari pasar dan tidak mengizinkan orang lain membawakannya, dan senantiasa duduk di tempat yang rendah dan senantiasa berjalan kaki ke tempat-tempat yang jauh dan kerap kali meminum air hujan. Demikianlah beliau memerangi hawa nafsu keduniaan sejak usia 6 tahun; dan berpuasa salama 2 tahun dengan buka puasanya tidak lebih dari 7 butir kurma, kecuali di malam-malam tertentu, dimana ibunya datang membawa sedikit makanan untuk beliau; yang mana beliau memakannya semata-mata untuk menyenangkan hati ibunya. Gurunya Al habib Umar Muhdar berkata :

“Aku mengawinkan putriku Aisyah dengan keponanku Habib Abdullah Al-Aydrus, disebabkan aku mendapatkan isyarat dari sesepuhku.”

Al habib Muhammad bin Hasan Al Mu’alim Ba Alwi, berkata:
“Al Habib Abdullah Al Aydrus mendapatkan Maqom yang tidak dapat didapati oleh orang lain, baik sebelum maupun sesudahnya.”
Al Habib Abdullah Al Aydrus telah banyak mendapat pujian dari orng-orang besar, para wali dan para guru, antara lain :

• Kakeknya Al Habib Imam Abdurrahman bin Muhammad Assegaf
• Ayahnya Al Habib Imam Abu Bakar As Sakran
• Pamannya Al Habib Syech bin Abdurrahman Assegaf
• Al faqih Al Habib Muhammad bin Ali maula Aidid
• Saudaranya Al Habib Ali bin Abu Bakar As Sakran
• Syekh Sa’ad bin Ali Al Manhaj
• Syekh Abdullah bin Thohir Al Douani
• Pemuka sufi wanita Al Zubaidiyah
• Syekh Ahmad bin Muhammad Al jabaruti
• Syekh Umar bin Said Bajabir, Syech Husen Al Ghorib
• Syekh Ma’ruf bin Muhammad Ba Abbad
• Syekh Muhammad Ba harmuz
• Syekh Abdurrahman Al Khotib, pengarang kitab Al Jauhar.

Sebagian para wali mimpi bertemu Rasulullah SAW, yang memuji Al habib Imam Abdullah Al aydrus dengan sabdanya:

“Ini anakku, ini ahli warisku, ini darah dagingku, ini rahasiaku, ini ahli waris sunahku, orang-orang besar akan mempelajari ilmu thareqat darinya“.

Diantara orang besar yang mengambil & belajar ilmu thareqat kepada beliau, antara lain :

• saudaranya sendiri Habib Ali bin Abu bakar As Sakran
• Habib Umar Ba ‘Alawi ( pengarang kitab Al hamrah )
• Pengarang kitab Faturrohim Al Rahman, Syekh Abdullah bin Abdul Rahman Bawazier
• Al ‘Alamah Syekh Abdullah bin Ahmad Baksir Al Makki.

Al habib Abdullah Al Aydrus, wafat pada hari Ahad sebelum waktu Zuhur tanggal 12 Ramadlan 865 H/1446 M; dalam perjalanan dakwahnya di kota Syihir, tepatnya di daerah Abul, dimakamkan di kota Tarim dan dibangun kubah di atas pusaranya. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Beliau meninggalkan 8 anak ( 4 putra : Abu bakar Al adni, Alwi, Syech, Husein. 4 putri : Rogayah, khodijah, Umul kulsum, Bahiya ).

Keluarga Habib ABDULLAH AL-AYDRUS

Habib Abdullah Alaydrus (bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman Assaqaf) wafat di perjalanan Sihir tahun 865 H di makamkan di Tarim.
Anak perempuannya:
1. Ruqayah
2. Khadijah (ibu Abdurahman bin Umar bin Syaikh Ali)
3. Kultsum (ibu dari sbg anak-anak Muhammad bin Syaikh Ali)
4. Talkhah
5. Bahiyah (istri Umar bin Abu Bakar al-Jufri)

Anak laki-lakinya:

I. Abu Bakar al-Adeni (wafat tahun 914 H)
Anak perempuannya:
1. Fathimah,
2. Muznah (ibu Fathimah bt. Abdullah bin Alwi Alaydrus)
3. Fulanah.
Anak laki-lakinya: Ahmad al-Musawa (ibunya Bahiyah bt. Syaikh Ali)
Ahmad mempunyai 2 orang anak laki-laki: Muhammad dan Aqil (tidak ada keturunan)

II. Syech bin Abdullah Alaydrus. (wafat di Tarim tahun 919 H)

Hanya mempunyai seorang anak laki yaitu: Abdullah (wafat tahun 944 H)
Abdullah mempunyai anak:
a. Muhammad

b. Abu Bakar Tidak punya keturunan
c. Husin
Husin bin Abdullah adalah kakek dari keluarga al-Sholaibiyah di Hindi, diantaranya al-Alamah Sayid Ali bin Abdullah Sohib 'Surot', wafat tahun 1131 H. Keturunannya berada di Tarim (1307 H) diantaranya Hasan bin Alwi al-Sholaibiyah. Dan keturunannya yang lain berada di Tsuwairi, Jawa dan Thaif. Selain keluarga al-Shulaibiyah, Husin juga kakek darim keluarga Abdurahman bin Alwi bin Muhammad di Habasyah.
d. Syech (Shohib Ahmad Abad, wafat tahun 990 H), mempunyai anak:
1. Ahmad shohib Buruj (tidak ada keturunan)
2. Abdul Qadir (dikenal dengan Ahmad Abad, wafat th 1034 H)
3. Abdullah, keluarganya di Tarim, wafat ketika sujud pada shalat Ashar malam Jum'at tahun 1019 H, mempunyai 3 orang anak laki:
a. al-Alamah Muhammad (wafat di Surot tahun 1031 H, keturunannya di Surot)
b. al-Alamah Syech (wafat di Deccan tahun 1041 H), mempunyai 2 orang anak laki:
I. Abdullah (wafat di Rubat Zubaidi tahun 1090 H)
II. Abdullah (wafat di Sihir tahun 1076 H), mempunyai 6 anak laki:
i. Syech (tidak disebutkan mempunyai keturunan)
ii. Husin (keluarganya di Soir)
iii. Ahmad (keluarganya di dekat Surot)
Al Bin Umar
iv. Abu Bakar (anaknya bernama Muhammad)
v. Umar (kakek keluarga bin Umar di Syihir)
Al Zein Bin Muhammad
vi. Muhammad (Kakek keluarga Abdullah bin Ja'far di Pontianak, Teluk Belanga dan Jawa)

Keluarga al Zein bin Muhammad bin Ja'far di Palembang dan Pekalongan.
Al Abi Bakar Bin Muhammad
Keluarga Abi Bakar bin Muhammad bin Ja'far di Ramlah dan Jawa.
c. Zainal Abidin bin Abdullah bin Syech bin Abdullah (al-Naqib al-Saadah), wafat tahun 1041 H, mempunyai 4 orang anak laki, 3 (tiga) diantaranya terputus keturunannya. Sedangkan 1 (satu) orang anaknya yang mempunyai keturunan bernama:
• Mustofa, mempunyai 5 orang anak laki, yaitu:
a..al-Allamah Zainal Abidin (murid Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad)

b. Ja'far Shodiq keturunannya terputus
c. Abdurahman
d. Abdullah
e. Syech, mempunyai 4 orang anak laki:
1. Shadiq (keturunannya terputus)
2. Ahmad (keturunannya di Tanah Melayu)
3. Idrus (keturunannya di Tarim)
4. Mustofa (keturunannya di Tarim, diantaranya anaknya yang bernama Abdurahman bin Mustofa, Keluarga Muhammad, Keluarga Zain di Trengganu dan Jawa).

III. Husin bin Abdullah Alaydrus. (wafat di Tarim tahun 917)

Anaknya Ahmad (wafat tahun 928 H), mempunyai dua orang anak laki, yaitu:
A. Abdullah (Shohib Thoqoh, wafat di Tarim tahun 1025 H), mempunyai empat orang anak laki, bernama:
1. Abu Bakar (keturunannya di India)
2. Abdurahman (keturunannya di India)
3. Ahmad, mempunyai tiga orang anak laki:
i. Umar (anaknya bernama Ali)
ii. Muhammad (keturunannya di Malabar)
iii. Alwi (shohib Taribah, wafat di Taribah th 1119 H), keturunannya:
1. Aal Umar bin Zein (Taribah, Jawa, Bali, India)
2. Aal Ja'far (Taribah, India, Jawa)
3. Aal Muhdhor dan Hasan (Taribah, Jawa)
4. Aal Hasan (Bali, India)
5. Aal Ali (Ahsa')
6. Aal Husin (India, Bajapur)
7. Aal Idrus (Malabar, Jawa)
8. Aal Ismail bin Ahmad (Taribah, Jawa, India)
4. Alwi (shohib Tsibi, wafat di Tarim tahun 1055 H), mempunyai tiga orang anak:
i. Husin, keturunannya al-Mahjub Husin bin Abdullah bin Alwi shohib Maqthob Tsibi, wafat tahun 1173 H, dan keturunannya yang lain:
1. Aal Ali bin Husin (Malabar)
2. Aal Abdurahman bin Alwi (Tsibi, Jawa)
3. Aal Alwi bin Muhammad (Maqthab)
4. Aal Muhammad bin Alwi (Malabar)
ii. Abdurahman
iii. Hasan (shohib Ridhah), keturunannya di Ridhoh, Jawa dan Hijaz. Keturunannya yang lain:
1. Aal Ahmad (Ridhoh)
2. Aal Abi Bakar bin Ali (Ridhoh, Jawa)
3. Aal Idrus bin Abdurahman (Jawa)
4. Aal Alwi bin Abdullah (Suma'ah, Jawa)
5. Aal Idrus bin Abdullah (Ridhoh)
B. Muhammad (wafat tahun 1012 H), mempunyai 6 orang anak laki:
1. Alwi

2. Husin keturunannya terputus
3. Abu Bakar
4. Ahmad
5. Ali, mempunyai dua orang anak laki, yaitu:
i. Muhammad (keturunannya di Maighab dekat Syibam)
ii. Husin, mempunyai enam orang anak laki:
a. Umar Keturunannya terputus.
b. Abdullah Keturunannya terputus, diantaranya Sayid Husin bin Abi Bakar bin Abdullah (shohibmaqam luar batang, Jakarta)
c. Ahmad (keturunannya di Syibam, diantaranya al-Faqih al-Mujtahid Hasan bin Abdullah bin Husin, wafat di Makkah tahun 1297 H, keturunannya di Jawa dan Bali)
d. Ali (keturunannya di Malabar)
e. Muhammad (kakek keluarga Ahmad bin Abdullah Syarim di Syibam, Jawa dan Du'an.
f. Abu Bakar (keturunannya terputus di Syibam dan Maiqab. Keturunan Abbas bin Abdullah di Jawa)
6). Abdurahman, mempunyai seorang anak laki bernama: Muhammad (wafat di Tarim tahun 1112 H), mempunyai dua orang anak laki
a. Abu Bakar (ayah dari Az-Zahid Muhammad bin Abi Bakar, wafat di Tarim tahun 1204 H. Keturunannya terputus di Tarim. Dan Beliau juga kakek dari keluarga Husin bin Abi Bakar di Jambi dan Palembang)
b. Abdurahman (shohib kitab 'al-Dasytah', wafat di Tarim tahun 1113 Hijriyah. Anaknya yang memberi keturunan bernama Ahmad shohib Hazm dekat Syibam, keturunannya di Hazm dan Jawa)

IV. Alwi bin Abdullah Alaydrus. (wafat di Tarim tahun 875 H)

Mempunyai seorang anak laki bernama: Abdullah, mempunyai anak laki bernama
Umar (wafat di Aden tahun 1000 H), mempunyai tiga orang anak laki, bernama:
1. Muhammad (keturunannya di Abin dan Aden)
2. Ahmad (keturunannya di Abin dan Aden), mempunyai dua orang anak laki:
a. Abu Bakar (keturunannya di Boor, Zhufar dan Jawa)
b. Alwi, mempunyai seorang anak bernama Abdullah wafat di Boor tahun 1145 H, mempunyai 3 orang anak:
i. Alwi (kakek keluarga Alwi bin Salim di Salilah dekat Boor, Boor dandi Jawa)
ii. Umar (keturunannya di Boor dan Jawa)
iii. Husin (keturunannya di Boor dan Jawa)
3. Al-Alim Abu Bakar (wafat di Tarim tahun 985 H/ Kakek dari Ahmad al-Muhtaji bin Alwi wafat di Boor tahun 1104 H).
5. Muhammad bin Abdullah Alaydrus. (keturunannya terputus)


Nasehat-nasehat Al Habib Abdullah Al Aydrus yang tertuang dalam kitab Al kibritul Ahmar :

• Peraslah jasadmu dengan mujahadah ( memerangi hawa nafsu dunia ) sehingga keluar minyak kemurnian.
• Barangsiapa yang menginginkan keridhaan Allah, hendaklah mendekatkan diri kepada Allah swt, karena keajaiban dan kelembutan Allah terdapat pada akhir malam.
• Siapapun dengan penuh kesungguhan hati mendekatkan diri kepada Allah swt, maka terbukalah Khazanah Allah swt.
• Diantara waktu yang bernilai tinggi, merupakan pembuka perbendaharaan Ilahi, diantara zuhur dan ‘Asar, Magrib dan Isya dan tengah malam terakhir sampai Ba’da Subuh.
• Sumber segala kebaikan dan pangkal segala kedudukan dan keberkahanakan dicapai melalui ingat mati, kubur dan bangkai.
• Keridhoan Allah swt dan Rasulnya terletak pada muthalaah( mempelajari dan memperdalam ) Al qur’an dan hadits serta kitab-kitab agama islam.
• Meninggalkan dan menjauhi Ghibah adalah Raja atas dirinya, menjauhi namimah (mengadu domba) adalah Ratu dirinya, baik sangka kepada orang lain adalah wilayah dirinya, duduk bercampur dalam majlis dzikir adalah keterbukaan hatinya.
• Kebaikan seluruhnya bersumber sedikit bicara ( tidak berbicara yang jelek didalam bertafakur tentang Ilahi dan ciptaannya terkandung banyak rahasia.)
• Jangan kau abaikan sedekah pada setiap hari sekalipun sekecil atom; perbanyaklah baca Al qur ‘an setiap siang dan malam hari.
• Ciri-ciri orang yang bahagia adalah mendapatkan taufik dalam hidupnya, banyak ilmu dan amal serta baik perangi maupun tingkah lakunya.
• Orang yang berakal adalah yang diam (tidak bicara sembarangan)
• Orang yang takut pada Allah swt adalah orang yang banyak sedih (merasa bersalah)
• Orang yang Roja’ ( mengharap Ridho Allah ) adalah orang yang banyak melakukan ibadah
• Orang yang mulia adalah yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan ridho Allah swt yang didambakan hidupnya.
• Orang yang bertaubat adalah yang menyesali perbuatannya, menjauhi pendengaran yang tidak bermanfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

( Dikutip dari buku Majlis zikir Ratib Syamsi Syumus )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar